Minggu, 30 Desember 2012

Askep Pneumonia

A. Pengertian

Pneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru yang
umumnya disebabkan oleh agent infeksi.
Askep Anak Pneumonia

B. Etiologi

Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti :
  1. Bakteri: stapilokokus, streplokokus, aeruginosa, eneterobacter
  2. Virus: virus influenza, adenovirus
  3. Micoplasma pneumonia
  4. Jamur: candida albicans
  5. Aspirasi: lambung
Askep Anak Pneumonia


C. Patofisiologi
Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Ada beberapa mekanisma yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. Partikel infeksius difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru, partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan juga dengan mekanisme imun sistemik, dan humoral. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organisme-organisme infeksius lainnya.

Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital, defisiensi imun didapat atau kongenital, atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut, partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus.

Kemungkinan lain, kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah. Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan virus ( contoh: varisella, campak, rubella, CMV, virus Epstein-Barr, virus herpes simpleks ) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata.

Setelah mencapai parenkim paru, bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan, deposit fibrin, dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. Virus, mikoplasma, dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan interstisial. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas, seperti yang terjadi pada bronkiolitis.
Askep Anak Pneumonia

D. Manifestasi Klinis
  • Secara khas diawali dengan awitan menggigil, demam yang timbul dengan cepat (39,5 ºC
    sampai 40,5 ºC).
  • Nyeri dada yang ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernafas dan batuk.
  • Takipnea (25 – 45 kali/menit) disertai dengan pernafasan mendengur, pernafasan cuping hidung
  • Nadi cepat dan bersambung
  • Bibir dan kuku sianosis
  • Sesak nafas
Askep Anak Pneumonia

E. Komplikasi
  • Efusi pleura
  • Hipoksemia
  • Pneumonia kronik
  • Bronkaltasis
  • Atelektasis (pengembangan paru yang tidak sempurna/bagian paru-paru yang diserang tidak
    mengandung udara dan kolaps).
  • Komplikasi sistemik (meningitis)
Askep Anak Pneumonia

F. Pemeriksaan Penunjang
  1. Sinar X : mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar, bronchial); dapat juga
    menyatakan abses)
  2. Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi semua organisme yang ada.
  3. Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus.
  4. Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru, menetapkan luas berat penyakit dan membantu diagnosis keadaan.
  5. Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis
  6. Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi.
  7. Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing.
Askep Anak Pneumonia

G. Penatalaksanaan

Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena hal
itu perlu waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya :
  • Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus.
  • Amantadine, rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus
  • Eritromisin, tetrasiklin, derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia mikroplasma.
  • Menganjurkan untuk tirah baring sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda.
  • Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia.
  • Bila terjadi gagal nafas, diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup.
Askep Anak Pneumonia


Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Pneumonia


A. Pengkajian
  1. Aktivitas/istirahat
    Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
    Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.

  2. Sirkulasi
    Gejala : riwayat adanya
    Tanda : takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat.

  3. Makanan/cairan
    Gejala : kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes mellitus
    Tanda : sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan kakeksia
    (malnutrisi).

  4. Neurosensori
    Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza)
    Tanda : perusakan mental (bingung)

  5. Nyeri/kenyamanan
    Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia, artralgia.
    Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan)

  6. Pernafasan
    Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea.
    Tanda :
    • sputum: merah muda, berkarat
    • perpusi: pekak datar area yang konsolidasi
    • premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi
    • Bunyi nafas menurun
    • Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku
  7. Keamanan
    Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS, penggunaan steroid, demam.
    Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar

  8. Penyuluhan/pembelajaran
    Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis
    Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 – 8 hari
    Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah.

B. Diagnosa Keperawatan
  1. Ketidakefektifan Pola Nafas b.d Infeksi Paru

  2. Defisit Volume Cairan b.d Penurunan intake cairan

C. Intervensi
  1. Ketidakefektifan Pola Nafas b.d Infeksi Paru

    Karakteristik :
    Batuk (baik produktif maupun non produktif) haluaran nasal, sesak nafas, Tachipnea, suara nafas terbatas, retraksi, demam, diaporesis, ronchii, cyanosis, leukositosis.
    Tujuan :
    Anak akan mengalami pola nafas efektif yang ditandai dengan :
    • Suara nafas paru bersih dan sama pada kedua sisi
    • Suhu tubuh dalam batas 36,5 – 37,2OC
    • Laju nafas dalam rentang normal
    • Tidak terdapat batuk, cyanosis, haluaran hidung, retraksi dan diaporesis
    Intervensi
    • Lakukan pengkajian tiap 4 jam terhadap RR, S, dan tanda-tanda keefektifan jalan napas.
      R : Evaluasi dan reassessment terhadap tindakan yang akan/telah diberikan.
    • Lakukan Phisioterapi dada secara terjadwal
      R : Mengeluarkan sekresi jalan nafas, mencegah obstruksi
    • Berikan Oksigen lembab, kaji keefektifan terapi
      R : Meningkatkan suplai oksigen jaringan paru
    • Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai order, kaji keefektifan dan efek samping (ruam, diare)
      R : Pemberantasan kuman sebagai faktor causa gangguan
    • Lakukan pengecekan hitung SDM dan photo thoraks
      R : Evaluasi terhadap keefektifan sirkulasi oksigen, evaluasi kondisi jaringan paru
    • Lakukan suction secara bertahap
      R : Membantu pembersihan jalan nafas
    • Catat hasil pulse oximeter bila terpasang, tiap 2 – 4 jam
      R : Evaluasi berkala keberhasilan terapi/tindakan tim kesehatan.


  2. Defisit Volume Cairan b.d Penurunan intake cairan

    Karakteristik :
    Hilangnya nafsu makan/minum, letargi, demam., muntah, diare, membrana mukosa kering, turgor kulit buruk, penurunan output urine.
    Tujuan :
    Anak mendapatkan sejumlah cairan yang adekuat ditandai dengan :
    • Intake adekuat, baik IV maupun oral
    • Tidak adanya letargi, muntah, diare
    • Suhu tubuh dalam batas normal
    • Urine output adekuat, BJ Urine 1.008 – 1,020

    Intervensi :
    • Catat intake dan output, berat diapers untuk output
      R : Evaluasi ketat kebutuhan intake dan output
    • Kaji dan catat suhu setiap 4 jam, tanda devisit cairan dan kondisi IV line
      R : Meyakinkan terpenuhinya kebutuhan cairan
    • Catat BJ Urine tiap 4 jam atau bila perlu
      R : Evaluasi obyektif sederhana devisit volume cairan
    • Lakukan Perawatan mulut tiap 4 jam
      R : Meningkatkan bersihan sal cerna, meningkatkan nafsu makan/minum.

Minggu, 02 Desember 2012

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN pada kanker medula spinalis


A.PENGKAJIAN

a. Nutrisi

Terjadi ketidakmampuan untuk menelan, mual muntah, serta kesulitan bernapas dapat menyebabkan intake makanan yang tidak adekuat sehingga dapat terjadi penurunan berat badan.

b. Aktivitas Istirahat tidur

1. Aktivitas

Kelemahan ekstremitas, nyeri pada punggung dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas

2. Istirahat tidur

Gangguan istirahat tidur dapat terjadi akibat nyeri yang hebat pada malam hari serta saat berbaring dan karena cemas.

c. Hygiene personal

Terjadi peningkatan kebutuhan akan bantuan orang lain dalam pemenuhan hygiene personal akibat adanya kelemahan ekstremitas, penurunan tingkat kesadaran serta nyeri.

d. Eliminasi

Terjadi gangguan BAB dan BAK

B.PEMERIKSAAN FISIK

B1 (Breathing)

 Irama pernapasan tidak teratur

 Takipnea

 Dispnea

 Kesulitan bernapas

 Pergerakan dada

B2 (Blood)

 Bradikardi

 Hipotensi

 Sianosis

B3 (Brain)

 Penurunan kesadaran

 Nyeri pada vertebra thorakalis, vertebra servikal, vertebra lumbalis

 Defisit sensorik

B4 (Bladder)

 Distensi kandung kemih

 Nyeri tekan pada kandung kemih

B5 (Bowel)

 Berat badan menurun

 Nyeri abdomen

B6 (Bone)

 Penurunan skala otot

 Kelemahan fleksi panggul dan spastisitas tungkai bawah

 Kehilangan refleks lutut dan refleks pergelangan kaki

 Atrofi otot betis dan kaki



C.PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Radiogram tulang belakang

b. Mielogram

c. CT-Scan Resolusi Tinggi

d. Pemeriksaan CSF

e. MRI

f. Analisa Gas Darah

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan kelemahan otot pernapasan

2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan aliran darah sekunder akibat hipotensi

3. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah

4. Nyeri berhubungan dengan inflamasi akibat tumor

5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering terbangun akibat nyeri

F.INTERVENSI

1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan kelemahan otot pernapasan

Tujuan : Pasien memperlihatkan frekuensi napas yang efektif dan mengalami pertukaran gas pada paru dengan kriteria hasil :

Ø RR : 16-20 x/menit

Ø Nadi : 60 – 100 x/menit

Ø Nadi teraba kuat dan reguler

Ø Retraksi dada ringan

Ø Tidak menggunakan otot bantu pernapasan


INTERVENSI

RASIONAL


1. Jelaskan pada pasien tentang penyebab dan cara mengatasi ketidakefektifan pola napas



2. Pertahankan jalan napas: posisi kepala dalam posisi netral, tinggikan sedikit kepala tempat tidur jika dapat ditoleransi pasien



3. Ubah posisi atau balik secara teratur,hindari atau batasi posisi telungkup



4. Bantu pasien untuk mengontrol pernapasan jika diperlukan. ajarkan dan anjurkan pasien untuk melakukan napas dalam



5. Pantau atau batasi pengunjung jika diperlukan







6. Observasi fungsi pernapasan dengan menginstruksikan pasien melakukan napas dalam





7. Observasi warna kulit adanya sianosis, keabu-abuan





8. Kolaborasi dengan dokter dalam pemeriksaan Analisa Gas Darah (AGD) dan oksimetri



9. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian oksigen kanul atau masker

1. Meningkatkan sikap kooperatif dari pasien





2. Memudahkan fungsi pernapasan dengan menggunakan gravitasi, meningkatkan ekspansi paru







3. meningkatkan ventilasi semua bagian paru





4. bernapas mungkin bukan hanya aktivitas volunter tetapi membutuhkan usaha secara sadar tergantung pada lokasi trauma yang berhubungan dengan otot pernapasan



5. Kelemahan secar umum dan gangguan pernapasan membuat resiko tinggi bagi pasien mendapatkan infeksi saluran pernapasan atas

6. Trauma pada C1-C2 menyebabkan hilangnya fungsi pernapasan secara menyeluruh







7. menggambarkan akan terjadinya gagal napas yang memerlukan intervensi medis dengan segera





8. menyatakan ventilasi atau oksigenasi. mengidentifikasi masalah pernapasan







9. Meningkatkan kadar oksigen dalan tubuh


2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan aliran darah sekunder akibat hipotensi

Tujuan : Pasien menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer teratasi dengan kriteria hasil :

Ø Akral hangat

Ø Perfusi baik

Ø CRT < 2 detik

Ø Tidak cianosis

Ø Nadi teratur

Ø Nadi :60- 100x/mnt




Intervensi

Rasional


Tindakan Mandiri

1. Jelaskan pada pasien tentang tindakan yang akan dilakukan

2. Pertahankan ekstermitas dalam posisi tergantung





3. Ukur haluaran urine dan catat berat jenisnya



4. Observasi warna dan membran mukosa kulit







Tindakan Kolaborasi

1. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan (IV/per oral)





2. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian oksigen sesuai indikasi



1. Meningkatkan sikap kooperatif dari pasien

2. Menurunkan statis vena di kaki dan pengumpulan darah pada vena pelvis untuk menurunkan resiko pembentukkan trombus

3. Syok lanjut atau penurunan curah jantung menimbulkan penurunan perfusi ginjal

4. Kulit pucat atau sianosis, kuku, membran bibir/lidah yang menunjukkan vasokontriksi perifer atau gangguan aliran darah sistemik



1. Peningkatan cairan diperlukan untuk menurunkan hiperviskositas darah atau mendukung volume sirkulasi/perfusi jaringan

2. Meningkatkan kadar oksigen dalam tubuh






3. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah

Tujuan : Pasien mengalami pemenuhan nutrisi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam dengan kriteria hasil:

Ø Nafsu makan meningkat

Ø Dapat menghabiskan makanan sesuai dengan porsinya

Ø Berat badan dapat dipertahankan/ditingkatkan


INTERVENSI

RASIONAL


1. Jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi yang adekuat



2. Berikan makan dengan berlahan pada lingkungan yang tenang



3. Mulailah untuk memberikan makan peroral setengah cair, makan lunak ketika klien dapat menelan air



4. Awasi asupan dan haluaran setiap 2 jam.



Tindakan Kolaborasi

1. Kolaborasi dengan tim dokter untuk memberikan cairan melalui iv atau makanan melalui selang

1. Meningkatkan sikap kooperatif dari pasien









2. Mempertahankan asupan cairan yang adekuat







3. Penurunan berat badan menunjukkan adanya dehidrasi









4. Merupakan pengukuran yang baik terhadap keseimbangan cairan tubuh











1. Meningkatkan cairan dalam tubuh


4.Nyeri berhubungan dengan inflamasi akibat tumor

Tujuan : pasien mengungkapkan rasa nyaman setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam dengan kriteria hasil :

Ø TD : 120/80 mmHg

Ø Nadi : 60-100x/menit

Ø RR : 16-20x/menit

Ø VAS : 0-1

Ø Ekspresi wajah pasien tampak tenang




INTERVENSI

RASIONAL


1. Jelaskan kepada pasien tentang penyebab nyeri



2. Berikan tindakan kenyamanan seperti perubahan posisi,masase, kompres hangat/ dingin sesuai indiakasi



3. Dorong penggunaan teknik relaksasi seperti naps dalam dan berikan aktivitas hiburan seperti televisi/radio



4. Observasi peningkatan iritabilitas, tegangan otot, gelisah dan perubahan TTV yang tak dapat dijelaskan



5. Kolaborasi dengan dokter dalm pemberian analgesik

1. Meningkatkan kan sikap kooperatif dari pasien



2. Tindakan alternatif mengontrol nyeri







3. Memfokuskan kembali perhatian.meningkatkan rasa kontrol dan dapat meningkatkan kemampuan koping



4. Petunjuk nonverbal dari nyeri yang memerlukan intervensi medis dengan segera



5. Dibutuhkan untuk menghilangkan spasme atau nyeri otot




5.Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering terbangun akibat nyeri

Tujuan : Pasien tidak mengalami gangguan pola tidur setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam dengan kriteria hasil :

Ø Mudah tertidur

Ø Tidak letih saat bangun

Ø Tidak ada gangguan Pola Tidur




INTERVENSI

RASIONAL


Jelaskan tindakan yang akan kita lakukan kepada pasien.

Agar pasien mengetahui dan mengerti tindakan yang dilakukan oleh perawat




Berikan lingkungan yang nyaman bagi pasien untuk meningkatkan tidur atau istirahat (seperti mematikan lampu, memberikan ventilasi ruangan yang adekuat, memberikan suhu yang sesuai dan menghindari kebisingan)



Hambatan kortikal pada vormasi reticular akan berkurang selama tidur, meningkatkan respons otomatik, oleh karenanya respons kardiovaskuler terhadap suara meningkat selama tidur.




Buat jadwal pengkajian atau intervensi untuk memungkinkan waktu tidur lebih lama ( seperti memeriksa tanda-tanda vital, dan merubah posisi pasien pada waktu yang sama).



Gangguan tidur sering terjadi dan dapat menggangu pemulihan sehubungan dengan gangguan psikologis dan fisiologis. Irama sirkandian pasien sering terganggu oleh terjadinya gangguan tersebut.




Kurangi asupan cairan sebelum waktu tidur tiba





Agar pasien tidak terbangun pada malam hari untuk berkemih karena itu dapat mengganggu istirahat tidur pasien




Hindari kafein selama 4 jam sebelum tidur



Karena kafein mengandung suatu zat yang merangsang sistem saraf pusat pada manusia yang dapat mengusir rasa ngantuk, sehingga pasien sulit tidur


Kurangi kebisingan



Agar pada saat beristirahat pasien tidak merasa terganggu



Evaluasi efek obat-obatan yang pasien dapatkan ( seperti steroid, diuretic) yang mungkin menggangu tidur



Derangement psikis dapat terjadi bila terdapat penggunaan kortiko steroid termaksud perubahan mood, insomnia.


Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik

Analgesik mempengaruhi transmisi dan persepsi nyeri di SSP


LAPORAN PENDAHULUAN Kanker Medula spinalis


A. DEFINISI

Kanker Medula spinalis adalah kanker yang berkembang dalam tulang belakang atau isinya dan biasanya menimbulkan gejala-gejala karena keterlibatan medula spinalis atau akar-akar saraf. Medula spinalis tidak hanya menderita akibat pertumbuhan kanker saja tapi juga akibat kompresi yang disebabkan oleh kanker/tumor.

Atau kanker yang berkembang dalamtulang belakang atau isinya dan biasanya menimbulkan gejala-gejalakarena keterlibatan medula spinalis atau akar-akar saraf.

B.ETIOLOGI

Ø Penyebab kanker Medula spinalis

a.Kanker Medula Spinalis Primer

Penyebab kanker medula spinalis primer sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Beberapa penyebab yang mungkin dan hingga saat ini masih dalam tahap penelitian adalah virus, faktor genetik, dan bahan-bahan kimia yang bersifat karsinogenik.

b.Kanker Medula Spinalis Sekunder

Adapun kanker sekunder (metastasis) disebabkan oleh sel-sel kanker yang menyebar dari bagian tubuh lain melalui aliran darah yang kemudian menembus dinding pembuluh darah, melekat pada jaringan medula spinalis yang normal dan membentuk jaringan tumor baru di daerah tersebut

C.KLASIFIKASI

Klasifikasi kanker medula spinalis

1.Kanker medula spinalis primer

Kanker medula spinalis primer dapat bersifat jinak maupun ganas.Kanker primer yang bersifat ganas contohnya astrositoma, neuroblastoma dan kordoma sedangkan yang bersifat jinak contonhya neurinoma, glioma dan ependimona (neoplasma yang timbul pada kanalis sentralis medula spinalis).

2.Kanker medula spinalis sekunder

Kanker medula spinalis sekunder selalu bersifat ganas karena merupakan metastatis dari proses keganasan di tempat lain seperti kanker paru-paru, kanker payudara, kelenjar prostat, ginjal, kelenjar tiroid atau limfoma.









D. PATOFISIOLOGI

Kanker medulla spinalis baik primer maupun sekunder menyebabkan kompresi medulla spinalis, akar-akar syaraf serta kandungan intracranial, sehingga terjadi kelemahan sensoris maupun motoris tergantung pada letak lesi.

Tanda dan gejala lesi akar syaraf :

a. Lesi pada daerah servikal menyebabkan kelemahan dan atrofi lengan bahu,kelemahan sensoris dan motoris berupa hiperestesia dalam dermatom vertebra servikalis (C2).Tumor pada servikal (C5, C6, C7) menyebabkan hilangnya refleks tendon ekstremitas atas, kompresi C6 menyebabkan defisit sensorik, pada C7 menyebabkan hilangnya sensorik jari telunjuk dan jari tengah

b. Lesi pada daerah thorakal menyebabkan kelemahan spastik pada ekstremitas bagian bawah dan parestesia serta menyebabkan nyeri pada dada dan abdomen

c. Lesi pada lumbal bagian bawah dan segmen-segmen sakral bagian atas menyebabkan kelemahan dan atrofi otot-otot perineum betis dan kaki serta kehilngan refkleks pergelangan kaki serta hilangnya sensasi daerah perianal dan genitalia, gangguan kontrol usus dan kandung kemih akibat lesi pada sakral bagian bawah

d. Lesi kauda ekuina menyebabkan gejala-gejala sfingter dini dan impotensi. Tanda – tanda khas lainnya adalah nyeri tumpul pada sakrum atau perineum, yang kadang-kadang menjalar ke tungkai .

E.MANIFESTASI KLINIS

1. Gejala pertama umumnya berupa nyeri yang menetap dan terbatas pada daerah tumor. Diikuti oleh nyeri yang menjalar menurut pola dermatom.

2. Nyeri setempat ini paling hebat terjadi pada malam hari dan menjadi lebih hebat oleh gerakan tulang belakang.

3. Nyeri radikuler diperberat oleh batuk dan mengejan.

4. Nyeri dapat berlangsung selama beberapa hari atau bulan sebelum keterlibatan medula spinalis.

5. Fungsi medula spinalis akan hilang sama sekali.

6. Kelemahan spastik dan hilangnya sensasi getar.

7. Parestesi dan defisit sensorik akan berkembang cepat menjadi paraplegia yang ireverssibel.

8. Gangguan BAB dan BAK.





F.PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Radiogram tulang belakang

Sebagian besar penderita tumor akan memperlihatkan osteoporosis atau kerusakan nyata pada pedikulus dan korpus vertebrae.

2. MielogramUntuk memastikan letak tumor.

3. CT-Scan Resolusi Tinggi.

4. CSF memperlihatkan kadar protein yang meningkat dan kadar glukosa yang normal.



G.INTERVENSI

a. Tumor Ekstradural

- Analgetik

- Kortikosteroid

- Terapi radiasi

- Kemoterapi

- Terapi hormonal

b. Tumor Intradural

- Pembedahan

- Pengangkatan tumor intramedular terutama pada ependimoma dan hemangioblastoma





Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik secara umum dapat dilakukan :

a. Pemeriksaan sinar X

b. CT. Scan

c. MRI

d. Analisa Gas Darahe. Elektrolit

Minggu, 25 November 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ARITMIA


A.    Definisi
Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan komplikasi yang sering terjadi pada infark miokardium. Aritmia atau disritmia adalah perubahan pada frekuensi dan irama jantung yang disebabkan oleh konduksi elektrolit abnormal atau otomatis (Doenges, 1999). Aritmia timbul akibat perubahan elektrofisiologi sel-sel miokardium. Perubahan elektrofisiologi ini bermanifestasi sebagai perubahan bentuk potensial aksi yaitu rekaman grafik aktivitas listrik sel (Price, 1994). Gangguan irama jantung tidak hanya terbatas pada iregularitas denyut jantung tapi juga termasuk gangguan kecepatan denyut dan konduksi (Hanafi, 1996).

B.    Etiologi

Etiologi aritmia jantung dalam garis besarnya dapat disebabkan oleh :
1.        Peradangan jantung, misalnya demam reumatik, peradangan miokard (miokarditis karena infeksi)
2.        Gangguan sirkulasi koroner (aterosklerosis koroner atau spasme arteri koroner), misalnya iskemia miokard, infark miokard.
3.        Karena obat (intoksikasi) antara lain oleh digitalis, quinidin dan obat-obat anti aritmia lainnya
4.        Gangguan keseimbangan elektrolit (hiperkalemia, hipokalemia)
5.        Gangguan pada pengaturan susunan saraf autonom yang mempengaruhi kerja dan irama jantung
6.        Ganggguan psikoneurotik dan susunan saraf pusat.
7.        Gangguan metabolik (asidosis, alkalosis)
8.        Gangguan endokrin (hipertiroidisme, hipotiroidisme)
9.        Gangguan irama jantung karena kardiomiopati atau tumor jantung
10.    Gangguan irama jantung karena penyakit degenerasi (fibrosis sistem konduksi jantung)




C.    Macam – macam aritmia

1.      Sinus Takikardi
Meningkatnya aktifitas nodus sinus, gambaran yang penting pada ECG adalah : laju gelombang lebih dari 100 X per menit, irama teratur dan ada gelombang P tegak disandapan I,II dan aVF.
2.      Sinus bradikardi
Penurunan laju depolarisasi atrim. Gambaran yang terpenting pada ECG adalah laju kurang dari 60 permenit, irama teratur, gelombang p tgak disandapan I,II dan aVF.
3.      Komplek atrium prematur
Impul listrik yang berasal di atrium tetapi di luar nodus sinus menyebabkan kompleks atrium prematur, timbulnya sebelu denyut sinus berikutnya. Gambaran ECG menunjukan irama tidak teratur, terlihat gelombang P yang berbeda bentuknya dengan gelombang P berikutnya.
4.      Takikardi Atrium
Suatu episode takikardi atrium biasanya diawali oleh suatu kompleks atrium prematur sehingga terjadi reentri pada tingkat nodus AV.
5.      Fluter atrium.
Kelainan ini karena reentri pada tingkat atrium. Depolarisasi atrium cept dan teratur, dan gambarannya terlihat terbalik disandapan II,III dan atau aVF seperti gambaran gigi gergaji
6.      Fibrilasi atrium
Fibrilasi atrium bisa tibul dari fokus ektopik ganda dan atau daerah reentri multipel. Aktifitas atrium sangat cepat.sindrom sinus sakit
7.      Komplek jungsional prematur
8.      Irama jungsional
9.      Takikardi ventrikuler


D.    Manifestasi klinis

a.    Perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak teratur; defisit nadi;  bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun; kulit pucat, sianosis, berkeringat; edema; haluaran urin menurun bila curah jantung menurun berat.
b.   Sinkop, pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi, perubahan pupil.
c.    Nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan obat antiangina, gelisah
d.   Nafas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman pernafasan; bunyi nafas tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi pernafasan seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau fenomena tromboembolitik pulmonal; hemoptisis.
e.    demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inflamasi, eritema, edema (trombosis siperfisial); kehilangan tonus otot/kekuatan

E.    Pemeriksaan Penunjang

1.        EKG   : menunjukkan pola cedera iskemik dan gangguan konduksi. Menyatakan tipe/sumber disritmia dan efek ketidakseimbangan elektrolit dan obat jantung.
2.        Monitor Holter            : Gambaran EKG (24 jam) mungkin diperlukan untuk menentukan dimana disritmia disebabkan oleh gejala khusus bila pasien aktif (di rumah/kerja). Juga dapat digunakan untuk mengevaluasi fungsi pacu jantung/efek obat antidisritmia.
3.        Foto dada       : Dapat menunjukkanpembesaran bayangan jantung sehubungan dengan disfungsi ventrikel atau katup
4.        Skan pencitraan miokardia     : dapat menunjukkan aea iskemik/kerusakan miokard yang dapat mempengaruhi konduksi normal atau mengganggu gerakan dinding dan kemampuan pompa.
5.        Tes stres latihan          : dapat dilakukan utnnuk mendemonstrasikan latihan yang menyebabkan disritmia.
6.        Elektrolit         : Peningkatan atau penurunan kalium, kalsium dan magnesium dapat mnenyebabkan disritmia.
7.        Pemeriksaan obat       : Dapat menyatakan toksisitas obat jantung, adanya obat jalanan atau dugaan interaksi obat contoh digitalis, quinidin.
8.        Pemeriksaan tiroid     : peningkatan atau penururnan kadar tiroid serum dapat menyebabkan.meningkatkan disritmia.
9.        Laju sedimentasi         : Penignggian dapat menunukkan proses inflamasi akut contoh endokarditis sebagai faktor pencetus disritmia.
10.    GDA/nadi oksimetri    : Hipoksemia dapat menyebabkan/mengeksaserbasi disritmia.

F.     Penatalaksanaan Medis

1.       Terapi medis
Obat-obat antiaritmia dibagi 4 kelas yaitu :
a. Anti aritmia Kelas 1 : sodium channel blocker
§ Kelas 1 A
Quinidine adalah obat yang digunakan dalam terapi pemeliharaan untuk mencegah berulangnya atrial fibrilasi atau flutter.
Procainamide untuk ventrikel ekstra sistol atrial fibrilasi dan aritmi yang menyertai anestesi.
Dysopiramide untuk SVT akut dan berulang
§ Kelas 1 B
Lignocain untuk aritmia ventrikel akibat iskemia miokard, ventrikel takikardia.
Mexiletine untuk aritmia entrikel dan VT
§ Kelas 1 C
Flecainide untuk ventrikel ektopik dan takikardi
b.   Anti aritmia Kelas 2 (Beta adrenergik blokade)
Atenolol, Metoprolol, Propanolol : indikasi aritmi jantung, angina pektoris dan hipertensi
c.   Anti aritmia kelas 3 (Prolong repolarisation)
Amiodarone, indikasi VT, SVT berulang
d.  Anti aritmia kelas 4 (calcium channel blocker)
Verapamil, indikasi supraventrikular aritmia
2.       Terapi mekanis
a.    Kardioversi  : mencakup pemakaian arus listrik untuk menghentikan disritmia yang memiliki kompleks GRS, biasanya merupakan prosedur elektif.
b.   Defibrilasi    : kardioversi asinkronis yang digunakan pada keadaan gawat darurat.
c.    Defibrilator kardioverter implantabel          : suatu alat untuk mendeteksi dan mengakhiri episode takikardi ventrikel yang mengancam jiwa atau pada pasien yang resiko mengalami fibrilasi ventrikel.
d.   Terapi pacemaker    : alat listrik yang mampu menghasilkan stimulus listrik berulang ke otot jantung untuk mengontrol frekuensi jantung.

G.   Pengkajian

Pengkajian primer :
1.      Airway
¨      Apakah ada peningkatan sekret ?
¨      Adakah suara nafas : krekels ?
2.      Breathing
¨      Adakah distress pernafasan ?
¨      Adakah hipoksemia berat ?
¨      Adakah retraksi otot interkosta, dispnea, sesak nafas ?
¨      Apakah ada bunyi whezing ?
3.      Circulation
¨      Bagaimanakan perubahan tingkat kesadaran ?
¨      Apakah ada takikardi ?
¨      Apakah ada takipnoe ?
¨      Apakah haluaran urin menurun ?
¨      Apakah terjadi penurunan TD ?
¨      Bagaimana kapilery refill ?
¨      Apakah ada sianosis ?
Pengkajian sekunder
1.       Riwayat penyakit
§ Faktor resiko keluarga contoh penyakit jantung, stroke, hipertensi
§ Riwayat IM sebelumnya (disritmia), kardiomiopati, GJK, penyakit katup jantung, hipertensi
§ Penggunaan obat digitalis, quinidin dan obat anti aritmia lainnya kemungkinan untuk terjadinya intoksikasi
§ Kondisi psikososial



2.       Pengkajian fisik
a.    Aktivitas       : kelelahan umum
b.   Sirkulasi       : perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak teratur; defisit nadi;  bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun; kulit warna dan kelembaban berubah misal pucat, sianosis, berkeringat; edema; haluaran urin menruun bila curah jantung menurun berat.
c.    Integritas ego           : perasaan gugup, perasaan terancam, cemas, takut, menolak,marah, gelisah, menangis.
d.   Makanan/cairan      : hilang nafsu makan, anoreksia, tidak toleran terhadap makanan, mual muntah, peryubahan berat badan, perubahan kelembaban kulit
e.    Neurosensori           : pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi, perubahan pupil.
f.    Nyeri/ketidaknyamanan       : nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan obat antiangina, gelisah
g.   Pernafasan  : penyakit paru kronis, nafas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman pernafasan; bunyi nafas tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi pernafasan seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau fenomena tromboembolitik pulmonal; hemoptisis.
h.   Keamanan   : demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inflamasi, eritema, edema (trombosis siperfisial); kehilangan tonus otot/kekuatan

H.    Diagnosa keperawatan dan Intervensi

1.        Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan konduksi elektrikal, penurunan kontraktilitas miokardia.

Kriteria hasil   :
a.    Mempertahankan/meningkatkan curah jantung adekuat yang dibuktikan oleh TD/nadi dalam rentang normal, haluaran urin adekuat, nadi teraba sama, status mental biasa
b.   Menunjukkan penurunan frekuensi/tak adanya disritmia
c.    Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan kerja miokardia.


Intervensi :
d.   Raba nadi (radial, femoral, dorsalis pedis) catat frekuensi, keteraturan, amplitudo dan simetris.
e.    Auskultasi bunyi jantung, catat frekuensi, irama. Catat adanya denyut jantung ekstra, penurunan nadi.
f.    Pantau tanda vital dan kaji keadekuatan curah jantung/perfusi jaringan.
g.   Tentukan tipe disritmia dan catat irama : takikardi; bradikardi; disritmia atrial; disritmia ventrikel; blok jantung
h.   Berikan lingkungan tenang. Kaji alasan untuk membatasi aktivitas selama fase akut.
i.     Demonstrasikan/dorong penggunaan perilaku pengaturan stres misal relaksasi nafas dalam, bimbingan imajinasi
j.     Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas dan faktor penghilang/pemberat. Catat petunjuk nyeri non-verbal contoh wajah mengkerut, menangis, perubahan TD
k.   Siapkan/lakukan resusitasi jantung paru sesuai indikasi
l.     Kolaborasi :
m. Pantau pemeriksaan laboratorium, contoh elektrolit
n.   Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
o.   Berikan obat sesuai indikasi : kalium, antidisritmi
p.   Siapkan untuk bantu kardioversi elektif
q.   Bantu pemasangan/mempertahankan fungsi pacu jantung
r.     Masukkan/pertahankan masukan IV
s.    Siapkan untuk prosedur diagnostik invasif
t.     Siapkan untuk pemasangan otomatik kardioverter atau defibrilator

2.        Kurang pengetahuan tentang penyebab atau kondisi pengobatan berhubungan dengan kurang informasi/salah pengertian kondisi medis/kebutuhan terapi.

Kriteria hasil   :
a.    menyatakan pemahaman tentang kondisi, program pengobatan
b.   Menyatakan tindakan yang diperlukan dan kemungkinan efek samping obat


Intervensi :
c.    Kaji ulang fungsi jantung normal/konduksi elektrikal
d.   Jelakan/tekankan masalah aritmia khusus dan tindakan terapeutik pada pasien/keluarga
e.    Identifikasi efek merugikan/komplikasiaritmia khusus contoh kelemahan, perubahan mental, vertigo.
f.    Anjurkan/catat pendidikan tentang obat. Termasuk mengapa obat diperlukan; bagaimana dan kapan minum obat; apa yang dilakukan bila dosis terlupakan
g.   Dorong pengembangan latihan rutin, menghindari latihan berlebihan
h.   Kaji ulang kebutuhan diet contoh kalium dan kafein
i.     Memberikan informasi dalam bentuk tulisan bagi pasien untuk dibawa pulang
j.     Anjurkan psien melakukan pengukuran nadi dengan tepat
k.   Kaji ulang kewaspadaan keamanan, teknik mengevaluasi pacu jantung dan gejala yang memerlukan intervensi medis
l.     Kaji ulang prosedur untuk menghilangkan PAT contoh pijatan karotis/sinus, manuver Valsava bila perlu






























DAFTAR PUSTAKA

1.      Hudak, C.M, Gallo B.M. Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik. Jakarta : EGC.1997

2.      Price, Sylvia Anderson. Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit. Alih bahasa Peter Anugrah. Editor Caroline Wijaya. Ed. 4. Jakarta : EGC ; 1994.

3.      Santoso Karo karo. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 1996

4.      Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.

5.      Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999

6.      Hanafi B. Trisnohadi. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Ed. 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 2001